Kata Gus Baha tentang Sesaji, Ibrah Kisah Walisongo Sebarkan Ajaran Islam Tanpa Konflik

Sosok alim alamah KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menerangkan betapa luar lazimnya walisongo saat menyebarkan Islam di Indonesia. Tanpa adanya konflik.

Islam masuk ke Indonesia pada awalnya melalui perdagangan dan interaksi kultur dengan pedagang muslim dari beraneka kawasan seperti Gujarat, Arab, dan India.

Pengerjaan ini lazimnya berlangsung tanpa konflik besar, karena pendekatan perdagangan dan kultur mewujudkan relasi yang relatif harmonis antara masyarakat setempat dan pedagang muslim.

Kemudian, penyebaran Islam lebih meluas melalui pernikahan dan interaksi antarbudaya dengan masyarakat setempat, serta melalui aktivitas dakwah dari para ulama dan pedagang Muslim yang datang ke kepulauan Nusantara.

Pengerjaan ini juga dibantu oleh fleksibilitas Islam dalam menyesuaikan diri dengan kultur dan kultur lokal, yang memungkinkannya untuk diterima oleh masyarakat setempat tanpa menimbulkan konflik besar.

Agama yang masuk negara enggak konflik itu diantaranya paling spesial di Indonesia. Sebab para wali ini menemani kultur daerahnya melainkan tak berbenturan, ujar Gus Baha seperti uploadan Youtube chanel @El Hazima Official.

Dulu Sesaji di Sawah, Kini Sodaqoh

Banyak aspek kepercayaan dan adat istiadat lokal yang terjalin dengan Islam dalam joker123 gaming format Islam Nusantara yang mengakomodasi poin-poin lokal dengan ajaran Islam.

Oleh karena itu, meskipun ada ketegangan lokal kadang kala, Islam secara awam masuk ke Indonesia tanpa konflik besar dan berhasil berintegrasi ke dalam masyarakat secara tenteram.

Contohnya apabila orang Jawa dahulu gunakan sesaji di sawah-sawah katanya dimakan penunggunya ya, ujar Gus Baha.

Yang punya sawah itu apabila dahulu pikirannya itu makhluk gaib di era modern ya penunggunya tuh kambing, ayam, binatang kecil, ya memang yang makan itu akibatnya, ungkap Gus baha.

Dulu tuh aneh dapat dimakan penunggunya, kalimat penunggu itu apa, nggak jelas, sebutnya.

Para Wali Tidak Mengkafirkan, melainkan Mengganti dengan Sodaqoh

Wali-wali datang tak mengkafirkan itu, melainkan terus dirubah jadi sedekah, ketetanggaan jadi kultur itu nggak dilawan melainkan cukup diandalkan diubah dari makani demit menjadi shodaqoh, tandas Gus Baha.

Perubahan dari sesaji menjadi sedekah ialah langkah yang positif dalam konteks keagamaan dan sosial. Sesaji ialah kultur keagamaan dalam kebudayaan Indonesia di mana masyarakat memberikan persembahan terhadap roh leluhur atau terhadap Ilahi dalam format makanan atau barang-barang lainnya.

Tapi, wali-wali mengubah konsep tersebut menjadi sedekah menasihati praktek tersebut ke arah yang lebih cocok dengan ajaran agama Islam.

Dalam Islam, sedekah mempunyai makna yang lebih luas dan bermakna positif. Sedekah ialah salah satu format ibadah yang dianjurkan, di mana seseorang memberikan beberapa dari harta atau rezeki mereka terhadap yang membutuhkan tanpa menginginkan imbalan apapun.

Dengan mengubah sesaji menjadi sedekah, masyarakat dapat lebih mendekatkan praktek keagamaan mereka dengan ajaran Islam, sambil konsisten mempertahankan poin-poin kebudayaan lokal yang berkhasiat.

Ini juga memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama, yang ialah poin-poin yang ditekankan dalam ajaran Islam. Dengan demikian, perubahan ini tak hanya menghormati kultur, melainkan juga menguatkan relasi antara keyakinan keagamaan dan praktik sosial yang lebih bermakna dan berimbas positif bagi masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *