Dikumpulkan dalam Keadaan Telanjang, Apakah Manusia Masih Bersyahwat di Padang Mahsyar?

Hari akhir zaman merupakan peristiwa kehancuran alam semesta dan merupakan babak permulaan dari kehidupan di akhirat. Pasca-akhir zaman masih banyak fase yang sepatutnya dilewati.

Fase-fase menakutkan setelahnya menyebabkan segala manusia sibuk dengan urusannya masing-masing. Salah satunya merupakan fase dikala manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam situasi telanjang bulat.

Sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW memang di sana manusia dikumpulkan seluruhnya dalam situasi telanjang bulat dan tidak berkhitan. Perempuan dan laki-laki berkumpul di satu tempat tanpa busana.

Berdasarkan keterangan di atas, pikiran manusia mungkin judi bola resmi saja menyeruak ke mana-mana. Lalu muncul pertanyaan apakah nanti di padang Mahsyar, manusia masih memiliki syahwat alias bernafsu memandang lawan jenisnya?

Apakah Masih Bersyahwat di Padang Mahsyar?

Menukil NU Online, pertanyaan semacam ini sebenarnya telah pernah ditanyakan oleh sahabiyah secara langsung terhadap Rasulullah SAW tepatnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.

قالت: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: (يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غُرْلاً) قلت: يا رسول الله، الرجال والنساء جميعاً ينظر بعضهم إلى بعض؟، قال: (يا عائشة الأمر أشد من أن يُهمهم ذلك)، وفي رواية: (الأمر أهم من أن ينظر بعضهم إلى بعض)، متفق عليه.
Artinya, “Aisyah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Manusia akan dikumpulkan pada hari akhir zaman dalam situasi tanpa sandal, telanjang tanpa baju dan tanpa disunat.’ Kemudian aku berkata, ‘Duhai Rasulullah, apakah para laki-laki dan perempuan saling memandang satu sama lain?’ Rasulullah malahan menjawab, ‘Duhai Aisyah situasi sulit yang akan dihadapi lebih penting dari pada hal itu.’ Dalam riwayat lain, ‘Persoalan yang akan dihadapi lebih penting ketimbang sekedar saling memandang satu dengan yang lain,’” (HR Muttafaq Alaih).

Dengan sikapnya yang kritis, Aisyah telah terutamanya dulu bertanya seputar hal itu ketimbang kita. Hal ini menampakkan bahwa sebenarnya pada dikala itu manusia memiliki nafsu untuk memandang dengan syahwat lawan jenisnya.

Akan melainkan sebab situasi sulit yang akan dihadapi pada dikala itu lebih berat ketimbang sekedar memandang lawan tipe, hasilnya manusia lebih konsentrasi terhadap situasi sulit besar hal yang demikian sehingga dikala itu sama sekali tidak terpikirkan oleh manusia untuk memandang lawan jenisnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *